STEREOKIMIA
Baiklah materi kali ini mengenai tereokimia. Pada saat kita menggambar molekul senyawa kimia dengan bentuk 3 D berarti kita sedang mempelajari ilmu streokimia. Disini saya akan membahas mengenai isomer. Isomer merupakan bagian dari Stereokimia, dimana isomer dibagi menjadi dua yaitu Isomer konstitusional dan Isomer ruang. Isomer konstitusional dibagi dua yaitu struktural dan fungsional. Isomer Ruang dibagi menjadi dua yaitu Enantiomer dan Diastereometer.
1. Isomer Konstitusional
a) Isomer Struktural
Isomer Struktural merupakan senyawa dengan rumus molekul sama tetapi memiliki struktur yang berbeda.
Contoh Isomer struktural :
Dari contoh(a) diatas dapat kita lihat adanya senyawa pentana, 2-metilbutana, dan 2,2 dimetilpropana merupakan senyawa yang memiliki rumus molekul C5H12. Adapun pada contoh(b) dapat kita lihat senyawa 1-propanol dan 2-propanol memiliki rumus molekul sama tetapi struktur dan namanya berbeda.
b) Isomer Fungsional
Dari namanya kita bisa lihat bahwa isomer fungsional itu memiliki rumus molekul sama tetapi memiliki gugus fungsi yang berbeda. Dapat kita lihat pada senyawa organik tersebut teradapat banyak gugus fungsinya. Ada gugus fungsi senyawa Alkohol, Ester, Asam karboksilat, Aldehid, Keton, Eter dan sebagainya.
Contoh Isomer fungsional :
Senyawa metileter dengan senyawa 1 propanol memiliki gugus molekul yang sama. Dapat jelas kita lihat, metileter dengan senyawa 1-propanol sama-sama memiliki 3 atom C, 1 atom O, dan 8 atom H. Perbedaanya dapat kita lihat pada gugus fungsinya. Senyawa Metileter, gugus fungsinya yaitu Eter sedangkan 1-propanol gugus fungsinya yaitu Alkohol.
Dalam pembelajaran Stereokimia, Kiral memiliki peran yang sangat penting. Kiral merupakan senyawa yang mengikat 4 tangan/gugus yang berlainan. Jadi dikatakan senyawa kiral apabila senyawa tersebut mengikat 4 gugus yang sama, sehingga senyawa yang tidak mengikat 4 tangan/gugus bukan termasuk Senyawa Kiral.
2. Isomer Ruang
a) Enantiomer
Enantiomer digunakan untuk menyatakan hubungan antara dua molekul merupakan bayangan cermin antara molekul satu dengan molekul lainnya. Jadi, enantiomer merupakan bentuk dua dimensi dari suatu molekul.
D merupakan singkatan dari "dextro" dan L merupakan singkatan dari " laevus". Perbedaanya yaitu, apabila " dextro" posisi gugus gungsinya atau OH- berada disebelah kanan atom C Kiral, sedangkan "laevus" berada disebelah kiri atom C Kiral.
R merupakan singkatan dari "Rektous" dan S singkatan dari "Sinister". Apabila R gugus fungsinya berada disebelah kanan maka S berada disebelah kiri.
b) Diastereomer
Diastereomer merupakan kebalikan dari Enantiomer, yaitu isomer ruang antar molekul yang tidak merupakan bayangan cermin. Isomer cis dan trans merupakan golongan Diastereomer.
Permasalahan :
1. Isomer cis dan trans merupakan golongan Diastereomer, pada saat kapan diastereomer disebut sebagai isomer cis dan disebut sebagai isomer trans, jelaskan dan berikan contohnya !
2. Senyawa Trans 2-butena dengan Cis 2-butena pada contoh Diastereomer memiliki rumus molekul yang sama lalu mengapa senyawa Trans lebih stabil dibanding senyawa cis, jelaskan !
3. Apakah keisomeran struktural hanya dapat digunakan pada ikatan tunggal saja ? Bagaimana pada ikatan rangkap atau rangkap tiga ?





Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh,saya Adinda Hanifah NIM A1C119103 Izin manjawab permasalahan nomor 3
BalasHapusIsomer struktur ada yang bisa digunakan oleh alkena dan alkuna,karena Isomer struktur ada 3 macam yaitu Isomer rangka,isomer posisi,dan Isomer Gugus fungsi,dimana isomer posisi digunakan oleh alkena dan alkuna dimana Isomer ini memfokuskan tentang letak ikatan rangkap
Baiklah saya Melfiza Egia Distria NIM A1C119076, akan mencoba menjawab permasalahan no 2.
BalasHapusMengapa senyawa trans lebih stabil dibandingkan cis. Karena dalam hal kestabilan termodinamika, isomer trans lebih stabil daripada isomer cis. hal ini disebabkan pada isomer trans, posisi L1 dan L2 tidak pada sisi yang sama dan membentuk posisi diagonal atau silang sehingga ruangannya tidak terlalu berdesakan.
Terimakasih..